Labirin: Australia Awards 2016 (3)

September 2016

Group line tiba-tiba ramai dengan kata “Amin….” setiap menit silih berganti para kandidat saling mendoakan dan mengaminkan, saya juga kadang ikut berkontribusi mengaminkan walau dalam hati. Rasa degdegan, penasaran membuat para kandidat saling menyemangati untuk tetap optimis, kami semua sadar dalam beberapa hari kedepan kami bisa jadi orang yang paling berbahagia dan bisa juga orang yang paling bersedih maka dari itu saya sudah menyiapkan mental apapun yang terjadi.

fullsizerender-6

Rabu adalah hari yang paling dinanti oleh kandidat penerima beasiswa Australia Awards Indonesia, karena berdasarkan data yang tersaji di Kaskus dan juga informasi alumni bahwa pengumuman penerima beasiswa selalu dihari Rabu. SELASA siang seperti biasa karena jarak kantor dan kost tidak terlalu jauh sehabis makan siang saya sempatkan ke kost untuk merebahkan badan sejenak. AC dikamar belum sempat dingin tiba-tiba ada email masuk dan ketika melirik ke layar hp ada email dari Australia Awards Indonesia dengan subject email Australia Awards Indonesia 2017 Selection Outcome dan begitu saya buka inilah isinya

fullsizerender-4

Merinding dan mengucap syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas karuniaNya. Menjadi salah satu dari 300 penerima beasiswa ini adalah salah satu pencapaian luar biasa yang sangat saya syukuri. Mama adalah orang pertama yang saya telepon untuk mengabarkan berita bahagia ini, setelah itu barulah saya juga ikut bergabung meluapkan kebahagiaan di group Line. Senang karena sebagian besar penghuni group mendapatkan email bahagia namun ikut merasakan juga kesedihan teman-teman yang belum berhasil, tapi saya dan kami yakin ini cuma masalah waktu suatu saat mereka juga akan merasakan bahagianya mendapat email kelulusan beasiswa baik itu Australia Awards adapun beasiswa lainnya.

Good luck untuk teman-teman yang ingin mendaftar beasiswa Australia Awards 2017 intake 2018 !!

Labirin: Australia Awards 2016 (2)

Juli – Agustus 2016

Memasuki bulan Juli saya mulai penasaran dengan hasil seleksi berkas beasiswa Australia Awards. Saya mulai mengetik segala macam key words di google yang bisa mengarah pada hasil seleksi berkas dari orang-orang yang juga mendaftar misalnya “Alhamdulilah lulus berkas AAI”, “Selangkah lagi beaasiswa AAI”, “Menunggu seleksi berkas AAI” sampai akhirnya ketemulah teman-teman senasib sepenanggungan di KASKUS hahahahh…Sudah ada 200 pages dimulai dari diskusi beberapa tahun lalu (big applause buat inisiatornya) dan saya langsung membuka halaman terakhir, agak lega karena ternyata memang belum ada pengumumannya, salah satu pendaftar bercerita kalau baru saja dia menelpon kantor AAI dan pengumumannya akan di umumkan sekitar minggu kedua dibulan Juli. Tanggal 12 Juli saya kembali melihat group kaskus dan sudah ada yang mendapatkan email sekitar jam 10 malam dari IALF terkait jadwal test IELTS yang secara tidak langsung mengindikasikan bahwa dia lolos seleksi berkas. Sedikit worry, saya mencoba membuka kaskus bagian diskusi terkait pengumuman seleksi berkas ditahun-tahun sebelumnya dan saya melihat masih ada harapan karena pengumumannya memang tidak serentak melainkan dalam beberapa hari, bahkan ada yang menerima email pengumuman subuh waktu Indonesia. Sayapun mencoba untuk tidur namun seperti tidur ayam saya tidak tenang, sampai akhirnya sekitar jam 5 subuh suara email di phone membangunkan saya dan penantian itu berbuah hasil, saya lolos seleksi berkas Australia Awards Indonesia 😀

Di KASKUS ada yang memposting bahwa ada group line “AAS Hunter” yang isinya adalah teman-teman yang juga mendaftar beasiswa Australia Awards. Group ini membuat saya semakin semangat melihat banyaknya anak – anak Indonesia yang punya mimpi yang besar untuk melanjutkan sekolah, banyak dari kami yang lulus berkas namun banyak juga yang gagal untuk kesekian kalinya namun bukan pejuang beasiswa namanya kalau larut  dalam kegagalan, dengan saling menyemangati semua akhirnya bisa move on dan kembali membangun dan memperkuat bangunan mimpi yang sedikit retak.

Lulus berkas barulah langkah awal, masih panjang proses sampai akhirnya menjadi Awardee, masih ada test IELTS dan Joint Selection Team (JST) atau test wawancara. IELTS dilakukan diakhir bulan Juli sehingga persiapan test kurang dari 1 bulan sedangkan JST dilakukan awal bulan Agustus. Kembali saya membuka blog-blog yang memuat tulisan mengenai pengalaman wawancara beasiswa ini, banyak pengalaman berbeda namun intinya adalah pertanyaan dari interviwer tidak akan keluar dari pertanyaan –pertanyaan di formulir yang dulu dimasukkan saat mendaftar serta masih dalam ruang lingkup akademik. Tidak perlu takut pertanyaan-pertanyaan seperti kapan nikah? atau kenapa masih jomblo? tidak akan ditanyakan :p. Saya mulai membuat daftar beberapa pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan dan mempersiapkan jawaban yang paling baik kemudian mencoba latihan menjawab pertanyaan –pertanyaan tersebut.

12 Agustus 2016, hari wawancarapun tiba dan lokasi saat itu di IALF Kuningan Jakarta. Saat itu seluruh calon penerima beasiswa dikumpulkan disatu ruangan dan mendengarkan beberapa sambutan serta perkenalan dengan para pewawancara.  Setelah itu suasana mulai tegang, satu persatu kandidat penerima beasiswa masuk kedalam ruangan untuk diwawancara oleh 2 orang yang merupakan 1 akademisi dari Indonesia dan 1 dari Australia.

Nama saya dipanggi untuk bersiap – siap dan duduk didepan ruangan sambil menunggu kandidat sebelumnya selesai. Terdengar samar –samar interviwer dan kandidat yang diinterview tertawa – tawa dalam ruangan, tiba-tiba kandidat lain didepan saya yang juga lagi menunggu giliran diruangan sebelah mengatakan kandidat sebelum peserta didalam ruangan saya juga terdengar tertawa-tawa, saya sedikit lega dan bisa disimpulkan bahwa interviwernya pasti asik dan humoris….Yessss!!

Peserta dalam ruangan keluar dengan raut muka biasa saja tanpa beban, beberapa menit kemudian saya dipanggil untuk masuk kedalam ruangan dan dipersilahkan duduk, saya mencoba memberikan senyuman terbaik saya sebelum sesi tanya jawab berlangsung namun hanya dibalas dengan senyum seadanya oleh mereka…hmmm mulailah ekspektasi saya tidak sejalan dengan realita, tidak ada tawa canda yang ada hanya pertanyaan serius yang menguji pengetahuan saya terkait jurusan yang saya akan ambil serta rencana masa depan saya. Saya mencoba tenang dan menjawab semampu saya namun melihat raut serius dimuka interviewer dan proses wawancara yang hanya berlangsung 15 menit tanpa basa basi membuat saya bertanya dalam hati, apakah mereka tidak “tertarik” dengan saya?? mengingat dua kandidat sebelumnya terdengar sangat cair dan menyenangkan proses wawancaranya….Hufttttt

Labirin: Australia Awards 2016 (1)

Hari ini adalah tanggal 1 Januari 2017 dan entah kenapa  tiba –tiba teringat akan janji pada diri saya sendiri untuk membuat tulisan mengenai perjalanan saya meraih beasiswa Australia Awards intake 2017. Awalnya sih ingin buat Vlog biar kekinian tapi masih banyak tapi nya…salah satunya masih belom pede depan kamera hahaha…

Tidak lolos selesksi wawancara beasiswa Presidential Scholarship LPDP ditahun 2014 cukup membuat saya down, sedikit tidak percaya diri dan butuh waktu setahun lebih, tepatnya di awal 2016 untuk membuat semangat itu kembali menggebu apalagi my roommate Robinson Sinurat sudah mendapatkan beasiswa LPDP kala itu dan membuat saya semakin terpacu untuk bisa juga melanjutkan kuliah Master di luar negeri.

Sedikit kecewa ketika mengetahui jatah saya mendaftar LPDP sisa satu kali, dan kalau gagal lagi pada tahap seleksi wawancara maka selamanya tidak akan bisa mendaftar lagi beasiswa ini. Mendengar beberapa teman yang secara akademik, leadership dan pengabdian masyarakat sangat baik namun gagal mendapatkan beasiswa LPDP membuat saya mengurungkan niat untuk mendaftar kembali beasiswa LPDP, coba meyakinkan diri sisa jatah itu baiknya saya gunakan sebagai peluru terakhir jika tidak mendapatkan beasiswa lain ditahun 2016 atau mungkin untuk program S3 nanti.

Januari – Maret 2016

Entah kenapa saya merasa Facebook memiliki jasa yang besar dalam hidup saya, beberapa kegiatan bergengsi dapat saya ikuti karena jasa Facebook, salah satunya adalah UNAOC EF Summer School 2013 di New York. Seperti biasa sambil tiduran saya memantau facebook melalui smart phone untuk membaca status dan foto teman-teman yang menarik serta tidak lupa memberikan jempol sebagai penghargaan buat usaha mereka menghibur penikmat facebook. Setelah cukup jauh scroll ke bawah tiba-tiba saya melihat ada reminder disalah satu akun facebook terkait Australia Awards Indonesia yang pendaftarannya mulai dibuka pada tanggal 1 Februari 2016.

Inilah saatnya mencoba kembali perjuangan untuk meraih beasiswa ke luar negeri. Tanpa membuang waktu, sejak tanggal 1 Februari 2016 saya sudah mencoba mengisi formulir pendaftaran secara online melalui sistem resmi Australia Awards yaitu oasis, setelah informasi umum sudah saya isi, kemudian mulailah menjawab beberapa pertanyaan yang bobotnya sangat menentukan apakah saya layak mendapatkan beasiswa ini atau tidak. Setelah seminggu fokus akhirnya selesai juga menjawab semua pertanyaan namun saya tidak langsung mengirim formulirnya melainkan saya pendam dulu selama beberapa minggu.

Ini adalah pengalaman pertama mendaftar beasiswa ini, maka dari itu, saya tidak mau gegabah dengan mencoba membuka beberapa blog terkait pengalaman orang-orang yang dulu pernah mendaftar beasiswa ini serta youtube resmi Australia Awards Indonesia terkait review dari seleksi ditahun-tahun sebelumnya. Setelah mendapatkan cukup banyak sudut pandang dan tips dari beberapa blog dan video saya kembali membaca formulir pendaftaran khususnya bagian menjawab beberapa pertanyaan. Ternyata strategi ini cukup berhasil, saya melihat banyak sekali hal yang kurang dan lemah yang membuat saya akhirnya mengganti beberapa hal dalam menjawab pertanyaan – pertanyaan dalam formulir. Singkatnya setelah beberapa kali baca dan ganti akhirnya saya mengirimkan formulir saya beserta semua berkas yang dibutuhkan melalui oasis. Pesan yang saya tangkap dari proses ini adalah seleksi administrasi beasiswa Australia Awards merupakan tahapan yang paling sulit karena hanya kurang lebih 10 persen yang lolos ketahap selanjutnya maka dari itu pastikan aplikasi kamu memuat “senjata-senjata” yang membuat juri penasaran dan membuat kamu beda dengan ribuan kandidat lain. Fyi, tahun 2016 ada sekitar 3300 pendaftar dan hanya 600 orang yang lolos ketahap wawancara.

UNAOC – EF Summer School 2013 Part II

IMG_0011

Summer in New York selalu membuat saya penasaran, soalnya pertama kali ke New York yaitu di musim dingin sehingga tidak ada 1 daun pun di Central Park.

Agak sedikit kesal karena koper saya sepertinya diperlakukan semena-mena oleh petugas bandara, karena ketika mengambil bagasi koper saya retak.

Hmmm let it be…

Ternyata pesawat Emirates yang saya tumpangi juga diisi 2 orang peserta dari Bangladesh dan Srilanka, setelah menunggu mereka mengambil bagasi kami langsung bergegas menuju Terrytown yang merupakan lokasi kampus Education First (EF).

Sepanjang perjalanan saya mengenang kembali masa-masa bersama rombongan SUSI RPA 2012. Patung liberty kecil terlihat seperti melambai-lambaikan tangan dan berkata welcome back Pandu.

Waktu menunjukkan pukul 2 siang namun seperti ada batu dikelopak mata yang membuat saya ingin cepat-cepat berbaring dan tidur, yes now 02.00 AM di Indonesia. Setelah registrasi dan mendapatkan kamar saya langsung terlelap. Panitia UNAOC-EF Summer school sangat pengertian, dihari pertama belum ada kegiatan sehingga kami yang dari negara-negara yang memiliki selisih waktu sampai lebih dari 12 Jam dengan USA tertolong dengan beristirahat total dihari pertama. Ohh iya my roommate dari Ecuador, Afghanistan dan Sierra Leone What a diverse 😀

IMG_2200

Good morning New York!!!

Setelah sarapan, acara pembukaan pun dimulai, 90 lebih pemuda dari 90 negara yang berbeda membuat suasana Kampus EF seperti mini United Nation. Mulai saling mengenal, bercerita dan berbagi pengalaman masing-masing. Hari ini lebih banyak diisi dengan ice breaking dengan tujuan para peserta merasa nyaman berada dilingkungan baru bersama pemimpin muda dari seluruh dunia.

IMG_1942

Hari berikutnya kami diajak untuk berkeliling kota New York, dimulai dengan mengunjungi Central Park yang merupakan paru-paru kota New York…yeeeeyyy finally 😀 , kemudian melewati beberapa Harlem, Times Square dan boat tour  ya mengelilingi Manhattan dan Liberty statue.

pic 1

Peserta UNAOC Summer school pun semakin akrab. Bahagia dan bangga bisa menjadi bagian dari UNAOC-EF Summer School

 

UNAOC-EF Summer School 2013 Part I

“Pandu tahun 2013 lw kayaknya panen ya?”

 Mendengar kalimat tersebut dari beberapa orang teman membuat saya hanya bisa tersenyum ataupun tertawa, ya…. Karena bisa jadi benar kata mereka di tahun 2013 banyak hal yang luar biasa membahagiakan terjadi di hidup saya. Februari menjadikan perwakilan Indonesia untuk UNAOC Youth Event di Vienna, Austria, April diwisuda dan menjadi pembicara di acara Community of Democracy di Ulaanbaatar, Mongolia, Juni menjadi staff di Global Peace Indonesia Foundation, serta Agustus menjadi satu dari 100 pemuda dari seluruh dunia yang menghadiri UNAOC-EF Summer School di New York, Amerika Serikat.

Back to the business…

Mei 2013 saya melihat postingan disalah satu group di Facebook bahwa ada acara UNAOC-EF Summer School. Awalnya sempat bingung mau daftar apa nggak, soalnya Februari kemarin sudah ikut acara yang disponsori oleh UNAOC, tapi setelah saya melihat objektif dan rundown acaranya, saya merasa ini berbeda dengan acara sebelumnya, khusnya waktu yang lebih panjang untuk pemuda dari seluruh dunia sharing dan berinteraksi satu sama lain.

Nothing to lose, itulah yang saya rasakan ketika mencoba mengetik satu persatu kata yang ditujukan untuk menjawab pertanyan-pertanyaan dikolom registrasi. Menurut saya pertanyaannya tidak terlalu sulit karena yang ditanyakan adalah seputar kegiatan dan background saya selama ini, namun bukan berarti saya cepat menyelesaikannya, sekitar 2 minggu baru benar-benar saya yakin bahwa jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut layak untuk saya kirim.

Di bulan Juni saya melihat di media sosial di Indonesia maupun mancanegara gencar membagi informasi menganai acara ini, sedikit degdegan karena pasti akan banyak yang akan daftar mengingat acara ini free termasuk penerbangan internasional, seperti biasa saya selalu berfikir kalau rejeki nggak akan kemana. Sudah bersungguh-sungguh pasti aka nada hasil terbaik.

Akhir Juni 2013 saya yang sudah bekerja di Global Peace Festival Indonesia Foundation mendapatkan tugas untuk mengadakan Global Peace Volunteer Camp 1.16 di pulau Barang Lompo Makassar Sulawesi Selatan. Happy…itulah perasaan yang saya rasakan setiap kali mengadakan Global Peace Volunteer Camp, selain banyak pelajaran yang bisa saya ambil disetiap camp, yang paling penting adalah bertemu dengan pemuda-pemudi yang luar biasa dari berbagai daerah di Indonesia.

Hari ke dua GPV Camp Makassar adalah hari pengumuman UNAOC-EF Summer School. Di pulau Barang Lompo signal sangat terbatas hanya beberapa jenis provider yang signalnya lumayan. Untung saja hari itu Anggi salah satu staf GPF membawa modem dengan provider yang termasuk bagus signalnya di pulau tersebut.

Saya mulai membuka facebook, melihat beberapa group yang rata-rata membernya apply program ini. Ada satu group yang salah satu membernya mulai mencari tahu pengumuman “ Adakah yang sudah dapat pengumumannya?” kurang lebih seperti itulah pertanyaannya, beberapa komentar masih belum menerima email apapun, sampai ada komentar yang menyebutkan bahwa dia mendapat email bahwa menjadi semifinalis. Seperti biasa jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya, saya mulai membuka email, ada 1 inbox dan dari panitia UNAOC-EF Summer School, jantung kembali berdetak lebih cepat lagi, dengan cepat saya klik dan membaca kata pembuka.

Dear  I Gede Pandu

Congratulation…”

Pengumuman UNAOC EF Summer School

Bulan Agustus tiba, 23 Agustus 2014 dengan pesawat Emirates saya terbang menuju Dubai kemudian dilanjutkan menuju New York. Ini bukan kali pertama ke New York namun tetap perasaan yang saya rasakan sama seperti pertama kali menginjakkan kaki ke kota “Big Apple”.

IMG_1921

Setelah melewati “check point”, saya bergegas ke pintu kedatangan, tidak susah menemukan petugas yang menjemput saya, dia berdiri mengenakan kemeja lengan putih dan mengangkat poster yang bertuliskan Welcome UNAOC – EF Summer School participants….

IMG_1958