UNAOC-EF Summer School 2013 Part I

“Pandu tahun 2013 lw kayaknya panen ya?”

 Mendengar kalimat tersebut dari beberapa orang teman membuat saya hanya bisa tersenyum ataupun tertawa, ya…. Karena bisa jadi benar kata mereka di tahun 2013 banyak hal yang luar biasa membahagiakan terjadi di hidup saya. Februari menjadikan perwakilan Indonesia untuk UNAOC Youth Event di Vienna, Austria, April diwisuda dan menjadi pembicara di acara Community of Democracy di Ulaanbaatar, Mongolia, Juni menjadi staff di Global Peace Indonesia Foundation, serta Agustus menjadi satu dari 100 pemuda dari seluruh dunia yang menghadiri UNAOC-EF Summer School di New York, Amerika Serikat.

Back to the business…

Mei 2013 saya melihat postingan disalah satu group di Facebook bahwa ada acara UNAOC-EF Summer School. Awalnya sempat bingung mau daftar apa nggak, soalnya Februari kemarin sudah ikut acara yang disponsori oleh UNAOC, tapi setelah saya melihat objektif dan rundown acaranya, saya merasa ini berbeda dengan acara sebelumnya, khusnya waktu yang lebih panjang untuk pemuda dari seluruh dunia sharing dan berinteraksi satu sama lain.

Nothing to lose, itulah yang saya rasakan ketika mencoba mengetik satu persatu kata yang ditujukan untuk menjawab pertanyan-pertanyaan dikolom registrasi. Menurut saya pertanyaannya tidak terlalu sulit karena yang ditanyakan adalah seputar kegiatan dan background saya selama ini, namun bukan berarti saya cepat menyelesaikannya, sekitar 2 minggu baru benar-benar saya yakin bahwa jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut layak untuk saya kirim.

Di bulan Juni saya melihat di media sosial di Indonesia maupun mancanegara gencar membagi informasi menganai acara ini, sedikit degdegan karena pasti akan banyak yang akan daftar mengingat acara ini free termasuk penerbangan internasional, seperti biasa saya selalu berfikir kalau rejeki nggak akan kemana. Sudah bersungguh-sungguh pasti aka nada hasil terbaik.

Akhir Juni 2013 saya yang sudah bekerja di Global Peace Festival Indonesia Foundation mendapatkan tugas untuk mengadakan Global Peace Volunteer Camp 1.16 di pulau Barang Lompo Makassar Sulawesi Selatan. Happy…itulah perasaan yang saya rasakan setiap kali mengadakan Global Peace Volunteer Camp, selain banyak pelajaran yang bisa saya ambil disetiap camp, yang paling penting adalah bertemu dengan pemuda-pemudi yang luar biasa dari berbagai daerah di Indonesia.

Hari ke dua GPV Camp Makassar adalah hari pengumuman UNAOC-EF Summer School. Di pulau Barang Lompo signal sangat terbatas hanya beberapa jenis provider yang signalnya lumayan. Untung saja hari itu Anggi salah satu staf GPF membawa modem dengan provider yang termasuk bagus signalnya di pulau tersebut.

Saya mulai membuka facebook, melihat beberapa group yang rata-rata membernya apply program ini. Ada satu group yang salah satu membernya mulai mencari tahu pengumuman “ Adakah yang sudah dapat pengumumannya?” kurang lebih seperti itulah pertanyaannya, beberapa komentar masih belum menerima email apapun, sampai ada komentar yang menyebutkan bahwa dia mendapat email bahwa menjadi semifinalis. Seperti biasa jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya, saya mulai membuka email, ada 1 inbox dan dari panitia UNAOC-EF Summer School, jantung kembali berdetak lebih cepat lagi, dengan cepat saya klik dan membaca kata pembuka.

Dear  I Gede Pandu

Congratulation…”

Pengumuman UNAOC EF Summer School

Bulan Agustus tiba, 23 Agustus 2014 dengan pesawat Emirates saya terbang menuju Dubai kemudian dilanjutkan menuju New York. Ini bukan kali pertama ke New York namun tetap perasaan yang saya rasakan sama seperti pertama kali menginjakkan kaki ke kota “Big Apple”.

IMG_1921

Setelah melewati “check point”, saya bergegas ke pintu kedatangan, tidak susah menemukan petugas yang menjemput saya, dia berdiri mengenakan kemeja lengan putih dan mengangkat poster yang bertuliskan Welcome UNAOC – EF Summer School participants….

IMG_1958

 

 

YOUTH FORUM COMMUNITY of DEMOCRACIES (CoD) Part III

Mulai merasa betah namun saat itu pula adalah hari terakhir di Mongolia. Yup 28 April 2013 adalah hari terakhir di Mongolia, namun sebelum pulang ke tanah air masih ada jadwal acara yang harus diselesaikan. Bangun pagi saya menyempatkan merekam pemandangan Mongolia dari kamar saya yang berada di lantai 14.

Image

Setelah makan pagi, saya dan beberapa peserta langsung menuju Children Palace tempat pelaksanaan Youth Forum. Sampai disana kami langsung masuk ke acara yang pertama yaitu mendengarkan hasil rekomendasi dari parallel sesi dihari pertama, lumayan lama kami berdiskusi dan memberikan masukan dan kritikan sampai akhirnya inilah hasil final rekomendasi yang kami buat selama 2 hari :

We, the Youth Forum participants representing 25 countries gathered in Mongolia, in the spirit of promoting the culture of democracy, recommend to the Community of Democracies to:

  1. Support the initiatives of the Youth Dimension aimed at strengthening the culture of democracy, promoting education for democracy, especially the programmes focused on young people from rural areas and marginalized groups not only involving the CoD countries and also non-member states.
  2. Ensure, encourage and promote youth engagement in supporting the fight against corruption at the local, regional, national and international levels.
  3. Provide, support and promote Youth Dimension programmes and activities that would encourage online and offline activism.
  4. Encourage and participate in special Youth Dimension events aimed at promoting intergenerational dialogue, strengthening solidarity and cooperation between generations and different pillars of the CoD.
  5. Promote the culture of democracy and critical thinking by introducing it into formal educational curriculums from an early age.
  6. Build dialogue and set program between the Youth Dimension and other pillars of the CoD aimed at fighting corruption. Development and empowerment of a vibrant youth civil society are essential for any democratic and peaceful process.
  7. Ensure youth participation in all CoD conferences, meetings and programmes.
  8. Support and promote educational exchanges for young people to share their experiences and concerns with the international community.
  9. Support the ongoing Youth Dimension initiatives taking place between the ministerial conferences, such as Young Leaders Academy.
  10. Ensure activity of Youth Dimension in the process of human rights protection, especially on peace building.
  11. Support efforts of Youth Dimensions network activists to monitor implementation of recommendations from the seventh Ministerial Conference in Ulaanbaatar by their governments.

 Image

Setelah semua selesai pukul 11.00 pagi acara Youth Forum pun ditutup dan seluruh peserta langsung menuju ke Sukhbaatar Square yang berada di depan State House untuk membuat CoD logo. Ada satu yang menarik, artivist project ini dihadiri oleh seorang seniman kaligrafir tradisional yang sangat terkenal, beruntung dia menulisan nama saya kedalam kaligrafi tradisional Mongolia dan bisa saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

ImageImage

Setelah makan siang kami kembali menuju State House untuk mengikuti plenary session selanjutnya. Lumayan lelah namun pukul 5 sore akhirnya selesai. Berhubung hari terakhir di Mongolia, Nara mengajak saya untuk melihat Natural Museum, luar biasa sekali, banyak sekali fosil-fosil asli dari binatang purba, dan hampir semuanya asli. Setelah ke museum kami berangkat menuju bukit yang cukup terkenal di Ulaanbaatar yaitu Zaisan Memorial, kami harus menaiki sekitar 300 anak tangga untuk bisa sampai di puncaknya, namun ketika sudah berada diatas, rasa capek terbayar lunas dengan pemandangan yang luar biasa. Dari puncak Zaisan Memorial saya melihat ada patung Buddha yang sangat besar, dan akhirnya Nara pun mengajak saya kesana, setelah sampai kami pun mulai mengambil foto-foto dan menikmati pemandangan sekitar, luar biasa sekali bisa berada di Mongolia walau hanya beberapa hari tapi sangat berkesan.

Image

Image

Image

Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 kami pun langsung menuju hotel Ghinggis Khaan untuk makan malam, setelah makan malam saya langsung bergegas menuju hotel, packing dan langsung menuju airport ditemani oleh Nara. Good bye Nara, peserta Youth Forum CoD and Mongolia see you next time.

Image

YOUTH FORUM COMMUNITY of DEMOCRACIES (CoD) PART II

27 April 2013 acara CoD dimulai, setelah makan pagi, pukul 9.15 pagi kami para peserta sudah dijemput oleh bus untuk menuju ke State House untu mengikuti acara pembukaan, oh iya biar kalian tidak bingung, saya kan sedikit menjelaskan bahwa acara Community of Democracies terdiri dari banyak forum ada Youth Forum, Women’s Forum, Civil Society Forum, Parliamentary Forum, dan Corporate Democracy Forum. Acara pembukaan ini dihadiri oleh semua peserta, setelah pembukaan kita melakukan “Family Photo” di depan State House yang menjadi icon Ulanbaatar Mongolia karena disana ada patung Ghinggis Khaan duduk berwibawa.

Image

Setelah sesi foto tersebut kami peserta Youth Forum langsung menuju Children’s Palace. Disinilah acara Youth Forum akan berlangsung selama 2 hari. Acara pertama yaitu Pembukaan oleh Mr Luvsanvandan Bold yang merupakan Menteri Luar Negeri Mongolia. Selanjutnya kata sambutan oleh beberapa pemimpin organisasi yang tergabung dalam Youth Dimention Core Group of Cummunity of Democracies.

Setelah makan siang pukul 13.00  saat yang paling membuat saya dag dig dug, yes show time….!. Saya bersama beberapa pemimpin organisasi mengisi sesi Education for Democracy : Core Element in Empowering Young People for Action. Menjadi pembicara didepan peserta Youth Forum yang berasal dari 25 negara membuat saya lumayan gugup, takut salah ngomong, namun ternyata yang saya takutkan tidak terjadi saya bisa berbicara dan menjawab pertanyaan dari peserta dengan lancar, saya membahas mengenai peran pemerintah dan Non Government Organization (NGO) dalam mempromosikan Education for Democracy, menurut saya pemerintah dan NGO harus saling mendukung program masing-masing yang bermanfaat bagi masyarakat luas, pendidikan sangat penting dalam demokrasi, demokrasi tanpa pendidikan sama saja menghancurkan demokrasi itu sendiri. Saya juga menyebutkan tentang politik uang yang sangat marak ketika pemilu menjelang, ini adalah salah satu bukti dari minimnya pendidikan mengenai demokrasi kepada masyarakat sehingga para calon pemimpin bangsa ini memanfaatkan “kebodohan” masyarakat melalui membeli suara mereka dengan uang. Tanya jawab juga berlangsung menarik ada yang menanyakan “seberapa penting sosial media di Indonesia?”, “Tantangan-tantangan yang dihadapi dalam menjalankan kegiatan Youth Interfaith Community” dan masih banyak lagi dan bersyukur sekali semuanya bisa saya jawab dengan lancar dan tenang. Thank God :)

Image

Acara selanjutnya adalah plenary session mengenai Engaging in Activism: Sources of Knowledge and Motivation Across Generations sesi ini diisi oleh orang-orang yang saat luar biasa dalam menyuarakan demokrasi dan hak asasi manusia seperti Ms Dorota Mitrus dari Europian Institute for Democracy, ISC, Polandia, Mr Art Kaufman, World Movement for Democracy, USA, dan Carlos Ponce, Latin America dan Caribbean Network for Democracy, ISC, Venezuela, sebenarnya di rundown acara adalagi satu pembicara dari Indonesia yaitu Ms Abdi Suryaningati dari Yappika saying dia tidak datang pada sesi tersebut. Satu yang bisa saya simpulkan dari mereka adalah ikutilah kata hatimu dan berjuanglah sesuai dengan bakat dan minatmu, tidak ada yang mudah namun keteguhan akan berbuah manis, kamu akan tersenyum bahagia melihat dirimu dan perjuanganmu berguna bagi orang banyak.

Coffee break lumayan membantu menghilangkan kantuk yang menyerang. Sesi selanjutnya adalah Parallel Group Discussion yang terdiri dari beberapa fokus seperti Youth Engagement  in Fighting Against Corruption, Building Organization for the Futur: Democracy Within Youth Civil Society dan Going Beyond Online Activism. saya mengambil tema Youth Engagement  in Fighting Against Corruption, saya mengambil tema ini karena inilah merupakan akar masalah yang sekarang dihadapi di negara kaya tapi miskin Indonesia, negaraku yang malang, dipimpin oleh orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan kelompok, ya pemimpin tanpa moral sama dengan koruptor yang harus segera dibasmi. Disini saya mendengarkan curahan hati peserta dari berbagai negara mengenai korupsi dan politik “kotor” dinegara mereka. Setelah cerita dan diskusi yang lumayan panjang akhirnya kami membuat rekomendasi dan dibacakan setelah semua peserta dari group lain masuk dan juga membacakan hasil diskusi dan rekomendasi mereka.

Lumayan lelah seharian duduk dan diskusi, namun panitia mengumumkan bahwa akan ada persembahan kesenian dari anak-anak Children Palace, kami pun dengan semangat langsung menuju ruang pertunjukan, dan ternyata luar biasa kami dehibur dengan tarian dan nyanyian yang indah dari anak-anak Mongolia. Semua peserta larut dalam pertunjukan yang luar biasa yang berdurasi kurang lebih 30 menit, semua tersenyum puas setelah keluar dari ruang pertunjukan.

Image

Waktu menunjukkan pukul 6 sore dan kami melanjutkan perjalanan menuju Ulaanbaatar Hotel untuk menghadiri undangan makan malam oleh Mr. E.Bat-Uul, Governor and Mayor of Ulaanbaatar City. Pukul 7.30 malam saya harus memenuhi janji saya kepada Nara dan organisasinya yaitu Mongolian Youth Federation untuk makan malam bersama mereka, saya dan Ediola Pashorllari dari World Youth Assembly of Youth (WAY) langsung menuju restoran Khaan ger dan bertemu dengan dengan mereka. Luar biasa sekali mereka menyambut kami dengan hangat serta mengajak kami berbincang-bincang seputar kegiatan masing-masing, setelah makan malam kami diaja menuju lantai 2 restoran tersebut yang ternyata lagi ada pemilihan model dan fashion show melihat busana-busana yang diperagakan sangat indah sekali perpaduan tradisional dan modern. Setelah acara selesai kamipun diantar menuju hotel dan langsung beristitahat karena esok masih ada kegiatan yang tidak kalah padatnya……….

YOUTH FORUM COMMUNITY of DEMOCRACIES (CoD) Part 1

ImagePetengahan Maret 2013 saya mendapat email dari Nara, dia berasal dari Mongolia, kami berkenalan di Vienna Austria ketika menjadi peserta Youth Event UNAOC 2013. Dia mengatakan bahwa bulan April nanti aka nada acara Youth Forum CoD di Mongolia, dan dia menawarkan saya untuk bisa berpartisipasi, tentu saja saya sangat tertarik  apalagi temanya menarik yaitu Strengthening the Culture of Democracy. Namun kendala financial membuat saya menanyakan masalah transportasi dan akomodasi, dan dia mengatakan bahwa semuanya gratis kalau kamu dipilih oleh Kementerian Luar Negeri (KEMLU) Mongolia, Yup teman saya hanya merekomendasikan namun yang memutuskan saya bisa berangkat atau tidak adalah Kemlu Mongolia. Untuk itu saya mengirimkan Biodata Singkat dan juga pencelasan mengenai Youth Interfaith Community yang merupakan komunitas yang saya buat bersama beberapa teman.

Awal April 2013 kabar bahagia itu datang, Yup saya terpilih menjadi salah satu peserta Youth Forum CoD 2013. Rasa syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada orang tua dan orang-orang yang selalu mendukung selama ini aku haturkan. Tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan negeri Ghinggis Khaan.

Satu minggu sebelum berangkat ada email yang lumayan bikin degdegan dari panitia Youth Forum. Email itu meminta kesediaan saya untuk menjadi salah satu pembicara di Youth Forum menganai Education For Democracy, tentu saja saya tidak langsung mengiyakan, saya meminta term of references nya terlebih dahulu sembari meminta pendapat dan saran dari orang-orang yang dekat dan tau kapasitas saya.

Setelah yakin, lebih tepatnya meyakin-yakinkan diri, saya menyanggupi untuk bisa mengisi salah satu tema alias bersedia menjadi salah satu pembicara.

Tanggal 25 April 2013  dengan menggunakan Korean Air saya bertolak menuju Mongolia, saat pengumuman dari pilot bahwa sebentar lagi akan mendara di Ulaanbaatar, saya membuka penutup kaca jendela dan melihat pemandanngan Mongolia dari atas, namun sepanjang mata memandang hanya gurun Gobi yang terkenal itu yang aku lihat, yang menarik adalah banyak sisa-sisa salju diatas gurun yang menandakan bahwa udara di Mongolia pasti dingin.

Akhirnya tiba di Mongolia dan bertemu beberapa delegasi dari negara lain di airport, kami disambut oleh panitia dan langsung diarahkan ke ruang tunggu VIP sembari menunggu visa on arrival, penyambutan mereka luar biasa bahkan kami tidak perlu antri bagasi, semua dilakukan oleh panitia. Setelah semua proses keimigrasian selesai, kami langsung diantar ke bus dan menuju ke hotel. Sepanjang perjalanan saya melihat kota Ulaanbaatar sangat kering, ini tentu saja karena sedang peralihan musim dingin dan memang tidak bisa banyak tumbuhan yang hidup karena kondisi tanah pasir gurun. Mongolia sangat gencar dalam membangun negaranya bisa dilihat sepanjang mata memangdang gedung-gedung tinggi sedandalam proses penyelesaian pembangunan dan itu diiyakan oleh salah satu panitia yang berada di dalam bus.

Akhirnya tiba di hotel, seluruh peserta Youth Forum menginap di Banyangol Hotel. Tiba di lobby saya langsung disambut oleh Nara, luar biasa Nara langsung memberikan paket bunga dan undangan makan malam, sayangnya malam itu saya harus meeting dan dinner bersama panitia untuk membahas teknis acara keesokan harinya, dan akhirnya makan malam bersama Nara dan organisasinya diundur keesokan harinya.

Image

Makan malam bersama panitia, pembicara dan fasilitator Youth Forum dimulai pukul 19.00 waktu Mongolia, setelah cek in saya bergegas masuk kamar dan berniat untuk mandi karena perjalanan panjang dari Jakarta membuat badan saya lengket apa lagi saya pikir langit masih terang jadi masih sempat lah, namun setelah saya melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 18.50, saya pun kaget dan tidak membuang waktu langsung ke lobby karena diundangan disebutkan bahwah mobil jemputan aka nada pukul 18.30. Syukurlah mobilnya masih ada, terpaksa mandiun batal J. Di Mongolia matahari terbenam pukul 8 malam jadi buat saya WNI yang selalu rutin melihat matahari terenam  pukul 6 sore lumayan takjub melihat jam 7.30 malam matahari masih terang benderang.

Makan malampun dimulai, dinner yang diawali perkenalan dan membahas rundown acara serta teknis acara keesokan harinya, jujur diantara semua orang yang duduk dimeja tersebut, saya lah yang paling baru dalam memimpin sebuah organisasi, ya Youth Interfaith Community baru setahun lebih berjalan. Makan malam yang 90 persen adalah daging membuat saya mencoba hampir semua menu yang tersedia diatas meja dan memang betul daging di Mongolia sangat lezat karena ternak diberi makan rumput dan tidak menggunakan bahan kimia seperti yang sering kita dengar di Indonesia.

Image

Akhirnya makan malam selesai, mata sudah 5 watt menuju hotel, menyempatkan diri membaca sedikit materi yang akan disampaikan agar besok tidak membuat malu diri sendiri dan Indonesia……

PESERTA FORUM ALIANSI PERADABAN PBB DI AUSTRIA

 

ImageMembuat rekomendasi untuk dunia yang lebih damai

Menjadi kebanggaan tersendiri ketika mengetahui bahwa saya menjadi salah satu dari 150 pemuda dari seluruh dunia yang mendapatkan beasiswa untuk mengikuti program 5th Global Forum United Nations Alliance of Cilivization (UNAOC) 26-28 Februari 2013 di Vienna Austria. Kami terpilih dari 3000 lebih pendaftar dari seluruh dunia.

5th Global Forum UNAOC adalah forum yang dihadiri pengambil keputusan, para ahli, dan berbagai pemangku kepentingan, serta 150 pemuda dari seluruh dunia. Tema forum ini adalah Responsible Leadership in Diversity and Dialogue, fokus pembahasannya mengenai 3 isu yaitu Religious freedom dalam konteks Religious Pluralism, Media Pluralism dan Immigration and Integration.

25 Februari 2013 saya tiba di kota Vienna, udara 1 derajat celsius menyambut saya. Berada di kota yang memiliki sistem transportasi yang sangat canggih dan tiket transportasi darat yang terintegrasi membuat saya tidak mengalami kesulitan untuk sampai ke hotel. Acara pertama  yaitu city walk, walaupun udara dingin menyengat, saya sangat bersemangat berkeliling kota Vienna, bersama pemuda lokal, saya dan 4 peserta lainnya diajak mengelilingi kota Vienna, dan disini pula kami mulai saling berkenalan dan bercerita tentang latar belakang kami.

Selasa 26 Februari 2013 acara Youth Event dilaksanakan di Museumsquartier dibuka oleh Sebastian Kurz yang merupakan State Secretary for Integration in Austria. Setelah pembukaan para pemuda langsung dibagi beberapa kelompok berdasarkan meja dan mulai bertukar pikiran terkait pertanyaan yang terdapat pada meja.

Selanjutnya Sekrtaris Jendral PBB, Mr Ban Ki-Moon memberikan pidatonya bahwa kita semua adalah keluarga yang seharusnya bisa hidup damai, rukun dan bermartabat. Ban Ki Moon juga menjawab 3 pertanyaan dari peserta Youth Event.

Setelah makan siang, acara inti dari Youth Event dimulai yaitu membuat rekomendasi dari beberapa isu yang menjadi fokus dalam United Nations Alliance of Civilizations. Bagian inilah yang menurut Pandu paling menarik, karena kami 150 pemuda dari seluruh dunia bisa bertukar ide dan pendapat mengenai apa-apa saja rekomendasi terbaik yang diharapkan bisa diterapkan di seluruh negara di dunia, khususnya mengenai Religious Freedom, Media Pluralism dan Immigration.

Saya mengambil fokus addressing the universal right to religious freedom (Law matters) dan setelah bertukar pikiran, pendapat dan bercerita tentang kebijakan dan keadaan seputar isu tersebut dimasing-masing negara, akhirnya kami bersepakat untuk mengajukan 2 rekomendasi yaitu :

Recommendation 1:

We recommend the UNAOC to enforce the incorporation of ethical, religious and spiritual

education, both formal and informal, from early childhood level.

Recommendation 2:

We recommend the UNAOC to ensure the rights of freedom of conscience, thoughts, religions,

religious practice, faith, spirituality and its protection on a state and public level.

Hari pertama ditutup dengan acara Keys to the World Vienna in Music and The Intercultural Innovation Award Ceremony di Volkstheather. Acara diisi dengan penyerahan penghargaan kepada mereka yang telah melakukan gerakan perdamaian diberbagai negara, dan yang berhasil menjadi pemenang pertama adalah Puerta Joven dari Mexico dengan projek Lenguas Jovenes (Language of Youth) (www.puertajoven.org/movil).

Selanjutnya pertunjukan music yang luar biasa dari Acies Quartett, Die Wiener Tschuschenkapelle, Aliosha Biz  Marwan Abado membuat saya merasa semakin beruntung bisa menjadi bagian dari 150 pemuda terpilih dari seluruh dunia.

Image

Global Forum

Hari ke 2 dan ke 3 adalah Global Forum yang dimana acara difokuskan pada laporan dan diskusi dari para pengambil kebijakan, orang-orang ahli dibidannya dan stakeholder. Turut hadir Michael Spindelegger (Vice-chancellor and Federal Minister for European and International Affairs of The Republic of Austria), Ban Ki-Moon (SekJen PBB), Jose Manuel Garcia-Margallo Y Marvil (Menteri Luar Negeri Spanyol), Recap Tayyip Erdogan (Perdana Menteri Turki), Traian Basescu (Presiden Romania, Michael Tamer (Wakil Presiden Brazil), Marty Natalegawa (Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia) dan masih banyak sekali tokoh-tokoh dunia yang selama ini hanya bisa saya lihat di layar kaca dan media cetak.

Pembahasan setiap isu dalam Global Forum juga semakin menarik karena ruangan seminar dibagi berdasarkan isu, dan setiap ruangan diisi oleh para ahli dan peserta yang fokus di isu tersebut sehingga komunikasi 2 arah antara pemateri dan peserta sangat terasa.

Salah satu yang menarik adalah saat coffee break para pembicara dan ahli berada diruang yang sama dengan peserta sehingga ini yang kami sebagai pemuda manfaatkan untuk mendapat ilmu yang lebih banyak dari cerita mereka.

Saya sangat beruntung bisa menjadi bagian dari acara ini. Acara Youth Event dan Global Forum UNAOC menurut saya sangat luar biasa, bisa berkenalan dengan 149 pemuda lainnya dari berbagai negara adalah pengalaman yang tak terlupakan, berkontribusi dalam membuat rekomendasi untuk dunia yang lebih damai  membuat saya semakin yakin bahwa dunia kedepannya bisa lebih baik jika pemuda, tokoh agama, pemerintah, dan stakeholder bisa bersinergi untuk kepentingan bersama.

28 Februari 2013 5th Global Forum UNAOC resmi ditutup sekaligus diumumkan tuan rumah 6th Global Forum UNAOC adalah Indonesia. Menlu Marty Natalegawa mengatakan kepada saya bahwa Indonesia belum memutuskan lokasinya, bisa jadi Jogja, Jakarta atau Bali. Malam itu juga saya bertolak ke Tanah Air dan mengatakan kepada para peserta sampai ketemu tahun depan di Indonesia.

 Image

SUSI RPA Part 3

Religious Pluralism

Itulah salah satu tema dari program ini, kami disini belajar mengenai Religious Pluralism, untuk itu kami tidak hanya mendapatkan materi di kelas melainkan berkunjung dan berdialog langsung dengan berbagai macam komunitas agama yang ada di USA, yang pertama kami kunjungi adalah Beth Am Synagogue, merupakan tempat ibadah untuk umat Yahudi. Sebelum saya menceritakan pengalaman saya selama berada di Synagogue, saya ingin bertanya keteman-teman, apa yang pertama kali terlintas dibenak kalian jika mendengar Yahudi? Agama, suku, bangsa, Israel, ras unggul atau bahkan jahat, Zionis, hmmm memang nggak heran jika sebagian besar dari kita masih bingung apa itu Yahudi, soalnya di Indonesia sendiri isu yang berkembang mengenai yahudi masih simpang siur atau masih kurang jelas, apa lagi sangat sulit bertemu dengan orang Yahudi di Indonesia, mungkin kalaupun ada sangat sulit melacak keberadaannya karena “Yahudi” masih sangat tabu di telinga warga Indonesia.

Selama ini sebagai mahasiswa Hubungan Internasional yang sering saya dengar mengenai Yahudi adalah bangsa atau orang-orang yang cerdas diatas rata-rata suku atau bangsa lain, Tragedi Holocaust, selain itu Yahudi seling identik dengan Israel dan sering dikaitkan dengan peperangan antara Israel dan Palestina. Sehingga secara tidak langsung membentuk perspektif negative dan tanda tanya besar mengenai apa itu Yahudi, benarkah orang Yahudi itu terlahir cerdas, kalau iya kenapa Tuhan menciptakan mereka lebih cerdas dari yang lain? pertanyaan itu adalah pertanyaan yang akhirnya terjawab ketika saya berada di USA.

Kami rombongan SUSI RPA 2012 berangkat dari hotel Conwell Inn sekitar pukul 3.30 menuju Beth Am Synagogue yang berada di luar kota Philadelphia tepatnya di Penn Vallay, PA, perjalanan ini memakan waktu kurang lebih 45 menit, setibanya kami di Synagogue hal yang pertama kali saya lihat adalah bendera Israel di depan Synagogue, kembali pertanyaan itu muncul, ini kan USA kok ada bendera negara lain disini padahal ini bukan kedubes hmmm btw pasti akan terjawab setelah berada di dalam Synagogue pikirku.

Kami sudah disambut oleh Ms Juliet dan mempersilahkan kami masuk, Ms Juliet adalah pemeluk agama Yahudi, sebelum kami masuk, yang prianya di persilahkan menggunakan penutup kepala yang berbentuk seperti peci tetapi lebih kecil, dan berhubung hari itu bertepatan dengan hari Sabbath, yang merupakan hari dimana umat Yahudi tidak bekerja dimulai dari terbenamnya matahari dihari Jumat sampai Sabtu malam, maka ketika Ibadah dimulai kami tidak boleh memotret.  Kami tiba lebih awal maka Ms Juliet mempersilahkan kami untuk memotret, sambil dia menjelaskan mengenai seperti apa orang Yahudi beribadah, kepada siapa dan sejarah agama Yahudi, dari penjelasan yang di jelaskan oleh Ms Juliet, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa agama Yahudi juga mengajarkan kebaikan kepada umatnya, dan beberapa umat yang Yahudi yang saya temui juga sangat menentang peperangan di Israel dan Palestina, disini saya belajar bahwa ketika ada tindak kekerasan atau kejahatan yang dilalukan seseorang atau sekelompok orang yang mengatas namakan agama, sebenarnya itu bukan ajaran agamanya melainkan kesalah pahaman orang-orang tersebut mengartikan ajaran agamanya. Setelah kami mendapatkan penjelasan dari Ms Juliet dan salah satu Rabbai (sebutan Imam dalam agama Yahudi), kami ikut menyaksikan proses ibadah umat Yahudi dalam menyambut Sabbath, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama umat Yahudi, sungguh pengalaman yang luar biasa, Thanks to God, gave me this experience.

Pada hari berikutnya kami juga mengunjungi Tara Puja meditation, dan mendapat pengetahuan mengenai agama Budha dan melalukan meditasi, kebetulan salah satu peserta SUSI, Linda beragama Budha, sehingga Linda juga bisa menjelaskan kepada kami apa itu agama Budha, sejarah dan ritual keagamaan agama Budha. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid yang dimana juga merupakan Indonesian Muslim Cultural Center, kami sangat senang berkunjung kesini karena bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan warga Indonesia yang ada di Philadelphia, Mesjid ini merupakan rumah yang didalamnya didesign untuk bisa digunakan untuk beribadah, sangat sederhana dan sangat jauh berbeda dengan Mesjid yang ada di Indonesia, namun melihat keakraban dan suasana kekeluargaan yang luar biasa di tanah Paman Sam, membuat siapapun yang berada didalam Mesjid itu meresa tenang dan hangat, setelah Sholat, Imam pemimpin Mesjid menceritakan sedikit sejarah singkat Mesjid Al-Fatha, jadi rumah atau Mesjid ini dibeli menggunakan dana warga Muslim Indonesia yang berada di Philadelphia, sedikit demi sedikit uang terkumpul dan akhirnya bisa membeli rumah yang sekarang menjadi Mesjid Al-Fatha, salah satu cerita menarik juga banyak sekali anak-anak kecil disana dan sebagian besar dari mereka tidak bisa berbahasa Indonesia dan belum pernah berkunjung ke Tanah air mereka Indonesia, malam itu acara ditutup dengan makan malam dan hmmmm yammi…Indonesian food J, ada tahu, temped an soto Banjar.

Hari ini tanggal 22 Januari 2012 dan diluar hotel warnah putih menyelimitu kota Philadelphia oleh salju, kami bergegas sarapan pagi sebelum berangkat ke African Episcopal Church of St. Thomas dan Presbyterian Church, saat itu kami disuruh memilih salah satu diantara dua gereja  tersebut, kami dibagi menjadi dua kelompok, saat itu saya memilih African Episcopal Church of St. Thomas, Gereja ini merupakan gereja African American yang dimana mayoritas umat dari gereja ini adalah warga African American, namun tidak menutup juga jika warga kulit putih ingin beribadah di Gereja tersebut, teman-teman pasti taukan kalau suara warga African American dasyat-dasyat, dan di Gereja itu paduan suara yang dasyat banget suaranya, setelah selesai beribadah kami melanjutkan denga makan siang dan setelah itu kami diajak tour melihat sejarah dari gereja tersebut yang dibangun pada tahun 1792.

SUSI Religious Pluralism 2012 bagian II

Minggu Pertama

Walaupun masih lelah setelah perjalanan panjang dari Jakarta ke Philadelphia, namun kami sangat bersemangat merasakan aktifitas dihari pertama. Kegiatan pertama kami pagi itu adalah pre-test yang menguji sejauh mana pengetahuan kami mengenai Religious Pluralism dan Demokrasi yang ada di USA.

Kemudian sesi yang paling seru adalah ketika sesi perkenalan, dan kami harus menghapal semua nama peserta SUSI RPA dan juga staf Dialogue Institute, bukan Cuma kami peserta SUSI tapi para staf juga harus menghapal nama kami heheheh….lucu sekali karena kebanyakan nama kami sangat sulit disebutkan oleh orang bule hehehe…..

“My name is Pandu”, ketika saya memperkenalkan nama saya, dan kemudian mereka mengulangi apa yang saya ucapkan “ penduuuuu” begitulah mereka memanggil namaku hehehheh….

Selanjutnya kami melakukan Poster Introduction, dan saya mendapatkan Ziadatul Himiah alias Jijo, saat itu kami masih sama-sama “jaim” dan belakangan baru ketahuan kalau dia adalah “seonggok sampah” hahhahahahha……itulah istilah yang belakangan tren dikalangan SUSI participants 2012.(please jangan mikir macem-macem coz itu becandaan kami emang kayak gitu heheh…we are sisters and brothers).

 

Hari minggu tanggal 16 Januari 2012 adalah salah pengalaman yang luar biasa bagi kami perserta SUSI RPA, karena pada hari itu kami menghadiri Volunteer service in Martin Luther King (MLK) Day of City-Wide Service, Martin Luther King Jr adalah salah satu tokoh African-American yang bisa dibilang pahlawan buat warga USA, beliau memperjuangankan perdamaian di USA yang pada masa itu kekerasan banyak terjadi karena ras atau warna kulit atau lebih pada diskriminasi terhadap kulit hitam.

Akhirnya warga USA bisa hidup damai dan rukun tanpa mempermasalahkan warna kulit, ini semua berkat perjuangan Martin Luther King, walaupun beliau tidak sempat menikmati hasil perjuangannya karena MLK dibunuh pada tanggal 4 April 1968 oleh orang yang menentang perjuangannya , namun apa yang MLK lakukan adalah sejarah yang terus dikenang dan terus diperingati setiap tahunnya oleh warga USA bahkan dunia. Tahun 2012 kami sangat beruntung karena bisa ikut memperingati MLK day, dan pada saat itu Wakil Presiden USA Joe Biden turut hadir dalam acara memperingati perjuangan MLK.

Ini adalah lagu ciptaan Martin Luther King yang sering kami nyanyikan dan dengarkan selama berada di USA, liriknya sangat mengharukan jika mengingat perjuangan Marthin Luther King. Dan setiap mendengar lagu ini pasti akan teringat 19 peserta SUSI RPA 2012 dan kota Philadelphia huff…..kapan bisa berkumpul lagi bersama mereka….i wish…soon :D

We Shall Overcome

We shall overcome, we shall overcome,
We shall overcome someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We shall overcome someday.

The Lord will see us through, The Lord will see us through,
The Lord will see us through someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We shall overcome someday.

We’re on to victory, We’re on to victory,
We’re on to victory someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We’re on to victory someday.

We’ll walk hand in hand, we’ll walk hand in hand,
We’ll walk hand in hand someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We’ll walk hand in hand someday.

We are not afraid, we are not afraid,
We are not afraid today;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We are not afraid today.

The truth shall set us free , the truth shall set us free,
The truth shall set us free someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
The truth shall set us free someday.

We shall live in peace, we shall live in peace,
We shall live in peace someday;
Oh, deep in my heart, I do believe,
We shall live in peace someday.

American History

Rabu 18 Januari 2012 kami mengunjungi tempat-tempat yang sangat bersejarah dalam perjalanan USA merebut kemerdekaan dan awal kemerdekaan USA, melihat tempat-tempat tersebut membuat saya seperti menjadi bagian dari sejarah tersebut, berimajinasi berada ditahun 1700an ketika USA masih dalam jajahan koloni Inggris.

Liberty Bell adalah sebuah symbol abadi dari kebebasan Amerika. Pertama kali dibunyikan 8 Juli 1776, empat hari setelah kemerdekaan Amerika, untuk merayakan penetapan Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence), lalu Bell itu retak pada tahun 1836 saat pemakaman John Marshall, ketua pengadilan Mahkamah Agung Amerika Serikat. Saya sangat beruntung bisa melihat secara langsung bagian dari sejarah Amerika Serikat tersebut dan pastinya tidak ketinggalan mengabadikan foto bersama Liberty Bell :D

Independence Hall adalah gedung bersejarah yang digunakan oleh para delegasi Negara bagian untuk merancang undang-undang Amerika Serikat di musim panas pada tahun 1787. Undang-undang ini adalah hukum tertinggi di Amerika serikat. Tercakup di dalamnya bentuk dan otoritas dari pemerintah federal, dan menetapkan kebebasan dan hak mendasar penduduk Amerika melalui Bill of Rights. Sangat luar biasa bisa berada dalam ruang-ruang bersejarah itu, bisa melihat kursi yang digunakan oleh GeorgeWashington dan para delegasi negara-negara bagian ketika merumuskan atau merancang undang-undang Amerika Serikat.

Hari itu juga sangat special karena kami bisa makan di City Tavern Restaurant, yang merupakan restaurant yang sangat bersejarah, selesai dibangun 1773 dan selanjutnya menjadi tempat makan bagi para figure dari American Revolution seperti George Washington,hmmm makan di tempat yang satu ini serasa berada di abad ke 18, dengan arsitektur dan suasana dan juga peralatan makan  yang sangat asli seperti abad ke 18.

Setelah makan siang kami langsung melanjutkan ke National Constitution Center  yang terletak tidak jauh dari City Tavern, museum sejarah di Independence MallPhiladelphiaAmerika Serikat. Museum ini merupakan bagian dari Taman Nasional Bersejarah Kemerdekaan Amerika Serikat, dan berada hanya dua blok dari Lonceng Kemerdekaan dan Independence Hall. Pengunjung dapat belajar mengenai sejarah dan pentingnya Konstitusi Amerika Serikat melalui pertunjukan film, pameran interaktif, dan ratusan artefak bersejarah. Museum ini diresmikan 4 Juli 2004, dan gedung museum dirancang oleh arsitek Amerika Serikat Henry N. Cobb bersama biro arsitek Ralph Appelbaum.

Pusat Konstitusi Nasional didirikan berdasarkan Undang-Undang Warisan Konstitusi (Constitution Heritage Act) tahun 1988. Museum ini mulai dibangun pada 17 September 2000, dan merupakan satu-satunya museum di bidang Konstitusi Amerika Serikat. Biaya pembangunan museum sebesar AS$ 185 juta, termasuk biaya gedung dan desain pameran.

Setelah seharian kami tour ke tempat-tempat bersejarah di Philadelphia, hari itu ditutup dengan nonton pertandingan basket antara Temple University dan Lasalle University, jujur saya bukan fans basket, tetapi entah kenapa malam itu saya sangat menikmati pertandingannya, Ya…yang menarik adalah seperti di film-film bukan hanya pertandingan basket yang disugukan, tetapi ada pemandu sorak dan marching band yang membuat pertandingan tersebut semakin menarik, tak kalah juga supporter kedua tim yang sangat heboh dan saling mengejek sengan yel-yel masing-masing, kamipun merasa bagian dari Temple University ikut teriak-teriak gak jekas mendukung tim bakset Temple University heheheh…..