UNAOC – EF Summer School 2013 Part II

IMG_0011

Summer in New York selalu membuat saya penasaran, soalnya pertama kali ke New York yaitu di musim dingin sehingga tidak ada 1 daun pun di Central Park.

Agak sedikit kesal karena koper saya sepertinya diperlakukan semena-mena oleh petugas bandara, karena ketika mengambil bagasi koper saya retak.

Hmmm let it be…

Ternyata pesawat Emirates yang saya tumpangi juga diisi 2 orang peserta dari Bangladesh dan Srilanka, setelah menunggu mereka mengambil bagasi kami langsung bergegas menuju Terrytown yang merupakan lokasi kampus Education First (EF).

Sepanjang perjalanan saya mengenang kembali masa-masa bersama rombongan SUSI RPA 2012. Patung liberty kecil terlihat seperti melambai-lambaikan tangan dan berkata welcome back Pandu.

Waktu menunjukkan pukul 2 siang namun seperti ada batu dikelopak mata yang membuat saya ingin cepat-cepat berbaring dan tidur, yes now 02.00 AM di Indonesia. Setelah registrasi dan mendapatkan kamar saya langsung terlelap. Panitia UNAOC-EF Summer school sangat pengertian, dihari pertama belum ada kegiatan sehingga kami yang dari negara-negara yang memiliki selisih waktu sampai lebih dari 12 Jam dengan USA tertolong dengan beristirahat total dihari pertama. Ohh iya my roommate dari Ecuador, Afghanistan dan Sierra Leone What a diverse :D

IMG_2200

Good morning New York!!!

Setelah sarapan, acara pembukaan pun dimulai, 90 lebih pemuda dari 90 negara yang berbeda membuat suasana Kampus EF seperti mini United Nation. Mulai saling mengenal, bercerita dan berbagi pengalaman masing-masing. Hari ini lebih banyak diisi dengan ice breaking dengan tujuan para peserta merasa nyaman berada dilingkungan baru bersama pemimpin muda dari seluruh dunia.

IMG_1942

Hari berikutnya kami diajak untuk berkeliling kota New York, dimulai dengan mengunjungi Central Park yang merupakan paru-paru kota New York…yeeeeyyy finally :D , kemudian melewati beberapa Harlem, Times Square dan boat tour  ya mengelilingi Manhattan dan Liberty statue.

pic 1

Peserta UNAOC Summer school pun semakin akrab. Bahagia dan bangga bisa menjadi bagian dari UNAOC-EF Summer School

 

UNAOC-EF Summer School 2013 Part I

“Pandu tahun 2013 lw kayaknya panen ya?”

 Mendengar kalimat tersebut dari beberapa orang teman membuat saya hanya bisa tersenyum ataupun tertawa, ya…. Karena bisa jadi benar kata mereka di tahun 2013 banyak hal yang luar biasa membahagiakan terjadi di hidup saya. Februari menjadikan perwakilan Indonesia untuk UNAOC Youth Event di Vienna, Austria, April diwisuda dan menjadi pembicara di acara Community of Democracy di Ulaanbaatar, Mongolia, Juni menjadi staff di Global Peace Indonesia Foundation, serta Agustus menjadi satu dari 100 pemuda dari seluruh dunia yang menghadiri UNAOC-EF Summer School di New York, Amerika Serikat.

Back to the business…

Mei 2013 saya melihat postingan disalah satu group di Facebook bahwa ada acara UNAOC-EF Summer School. Awalnya sempat bingung mau daftar apa nggak, soalnya Februari kemarin sudah ikut acara yang disponsori oleh UNAOC, tapi setelah saya melihat objektif dan rundown acaranya, saya merasa ini berbeda dengan acara sebelumnya, khusnya waktu yang lebih panjang untuk pemuda dari seluruh dunia sharing dan berinteraksi satu sama lain.

Nothing to lose, itulah yang saya rasakan ketika mencoba mengetik satu persatu kata yang ditujukan untuk menjawab pertanyan-pertanyaan dikolom registrasi. Menurut saya pertanyaannya tidak terlalu sulit karena yang ditanyakan adalah seputar kegiatan dan background saya selama ini, namun bukan berarti saya cepat menyelesaikannya, sekitar 2 minggu baru benar-benar saya yakin bahwa jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut layak untuk saya kirim.

Di bulan Juni saya melihat di media sosial di Indonesia maupun mancanegara gencar membagi informasi menganai acara ini, sedikit degdegan karena pasti akan banyak yang akan daftar mengingat acara ini free termasuk penerbangan internasional, seperti biasa saya selalu berfikir kalau rejeki nggak akan kemana. Sudah bersungguh-sungguh pasti aka nada hasil terbaik.

Akhir Juni 2013 saya yang sudah bekerja di Global Peace Festival Indonesia Foundation mendapatkan tugas untuk mengadakan Global Peace Volunteer Camp 1.16 di pulau Barang Lompo Makassar Sulawesi Selatan. Happy…itulah perasaan yang saya rasakan setiap kali mengadakan Global Peace Volunteer Camp, selain banyak pelajaran yang bisa saya ambil disetiap camp, yang paling penting adalah bertemu dengan pemuda-pemudi yang luar biasa dari berbagai daerah di Indonesia.

Hari ke dua GPV Camp Makassar adalah hari pengumuman UNAOC-EF Summer School. Di pulau Barang Lompo signal sangat terbatas hanya beberapa jenis provider yang signalnya lumayan. Untung saja hari itu Anggi salah satu staf GPF membawa modem dengan provider yang termasuk bagus signalnya di pulau tersebut.

Saya mulai membuka facebook, melihat beberapa group yang rata-rata membernya apply program ini. Ada satu group yang salah satu membernya mulai mencari tahu pengumuman “ Adakah yang sudah dapat pengumumannya?” kurang lebih seperti itulah pertanyaannya, beberapa komentar masih belum menerima email apapun, sampai ada komentar yang menyebutkan bahwa dia mendapat email bahwa menjadi semifinalis. Seperti biasa jantung tiba-tiba berdetak lebih cepat dari biasanya, saya mulai membuka email, ada 1 inbox dan dari panitia UNAOC-EF Summer School, jantung kembali berdetak lebih cepat lagi, dengan cepat saya klik dan membaca kata pembuka.

Dear  I Gede Pandu

Congratulation…”

Pengumuman UNAOC EF Summer School

Bulan Agustus tiba, 23 Agustus 2014 dengan pesawat Emirates saya terbang menuju Dubai kemudian dilanjutkan menuju New York. Ini bukan kali pertama ke New York namun tetap perasaan yang saya rasakan sama seperti pertama kali menginjakkan kaki ke kota “Big Apple”.

IMG_1921

Setelah melewati “check point”, saya bergegas ke pintu kedatangan, tidak susah menemukan petugas yang menjemput saya, dia berdiri mengenakan kemeja lengan putih dan mengangkat poster yang bertuliskan Welcome UNAOC – EF Summer School participants….

IMG_1958

 

 

YOUTH FORUM COMMUNITY of DEMOCRACIES (CoD) Part III

Mulai merasa betah namun saat itu pula adalah hari terakhir di Mongolia. Yup 28 April 2013 adalah hari terakhir di Mongolia, namun sebelum pulang ke tanah air masih ada jadwal acara yang harus diselesaikan. Bangun pagi saya menyempatkan merekam pemandangan Mongolia dari kamar saya yang berada di lantai 14.

Image

Setelah makan pagi, saya dan beberapa peserta langsung menuju Children Palace tempat pelaksanaan Youth Forum. Sampai disana kami langsung masuk ke acara yang pertama yaitu mendengarkan hasil rekomendasi dari parallel sesi dihari pertama, lumayan lama kami berdiskusi dan memberikan masukan dan kritikan sampai akhirnya inilah hasil final rekomendasi yang kami buat selama 2 hari :

We, the Youth Forum participants representing 25 countries gathered in Mongolia, in the spirit of promoting the culture of democracy, recommend to the Community of Democracies to:

  1. Support the initiatives of the Youth Dimension aimed at strengthening the culture of democracy, promoting education for democracy, especially the programmes focused on young people from rural areas and marginalized groups not only involving the CoD countries and also non-member states.
  2. Ensure, encourage and promote youth engagement in supporting the fight against corruption at the local, regional, national and international levels.
  3. Provide, support and promote Youth Dimension programmes and activities that would encourage online and offline activism.
  4. Encourage and participate in special Youth Dimension events aimed at promoting intergenerational dialogue, strengthening solidarity and cooperation between generations and different pillars of the CoD.
  5. Promote the culture of democracy and critical thinking by introducing it into formal educational curriculums from an early age.
  6. Build dialogue and set program between the Youth Dimension and other pillars of the CoD aimed at fighting corruption. Development and empowerment of a vibrant youth civil society are essential for any democratic and peaceful process.
  7. Ensure youth participation in all CoD conferences, meetings and programmes.
  8. Support and promote educational exchanges for young people to share their experiences and concerns with the international community.
  9. Support the ongoing Youth Dimension initiatives taking place between the ministerial conferences, such as Young Leaders Academy.
  10. Ensure activity of Youth Dimension in the process of human rights protection, especially on peace building.
  11. Support efforts of Youth Dimensions network activists to monitor implementation of recommendations from the seventh Ministerial Conference in Ulaanbaatar by their governments.

 Image

Setelah semua selesai pukul 11.00 pagi acara Youth Forum pun ditutup dan seluruh peserta langsung menuju ke Sukhbaatar Square yang berada di depan State House untuk membuat CoD logo. Ada satu yang menarik, artivist project ini dihadiri oleh seorang seniman kaligrafir tradisional yang sangat terkenal, beruntung dia menulisan nama saya kedalam kaligrafi tradisional Mongolia dan bisa saya bawa pulang sebagai kenang-kenangan.

ImageImage

Setelah makan siang kami kembali menuju State House untuk mengikuti plenary session selanjutnya. Lumayan lelah namun pukul 5 sore akhirnya selesai. Berhubung hari terakhir di Mongolia, Nara mengajak saya untuk melihat Natural Museum, luar biasa sekali, banyak sekali fosil-fosil asli dari binatang purba, dan hampir semuanya asli. Setelah ke museum kami berangkat menuju bukit yang cukup terkenal di Ulaanbaatar yaitu Zaisan Memorial, kami harus menaiki sekitar 300 anak tangga untuk bisa sampai di puncaknya, namun ketika sudah berada diatas, rasa capek terbayar lunas dengan pemandangan yang luar biasa. Dari puncak Zaisan Memorial saya melihat ada patung Buddha yang sangat besar, dan akhirnya Nara pun mengajak saya kesana, setelah sampai kami pun mulai mengambil foto-foto dan menikmati pemandangan sekitar, luar biasa sekali bisa berada di Mongolia walau hanya beberapa hari tapi sangat berkesan.

Image

Image

Image

Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 kami pun langsung menuju hotel Ghinggis Khaan untuk makan malam, setelah makan malam saya langsung bergegas menuju hotel, packing dan langsung menuju airport ditemani oleh Nara. Good bye Nara, peserta Youth Forum CoD and Mongolia see you next time.

Image

YOUTH FORUM COMMUNITY of DEMOCRACIES (CoD) PART II

27 April 2013 acara CoD dimulai, setelah makan pagi, pukul 9.15 pagi kami para peserta sudah dijemput oleh bus untuk menuju ke State House untu mengikuti acara pembukaan, oh iya biar kalian tidak bingung, saya kan sedikit menjelaskan bahwa acara Community of Democracies terdiri dari banyak forum ada Youth Forum, Women’s Forum, Civil Society Forum, Parliamentary Forum, dan Corporate Democracy Forum. Acara pembukaan ini dihadiri oleh semua peserta, setelah pembukaan kita melakukan “Family Photo” di depan State House yang menjadi icon Ulanbaatar Mongolia karena disana ada patung Ghinggis Khaan duduk berwibawa.

Image

Setelah sesi foto tersebut kami peserta Youth Forum langsung menuju Children’s Palace. Disinilah acara Youth Forum akan berlangsung selama 2 hari. Acara pertama yaitu Pembukaan oleh Mr Luvsanvandan Bold yang merupakan Menteri Luar Negeri Mongolia. Selanjutnya kata sambutan oleh beberapa pemimpin organisasi yang tergabung dalam Youth Dimention Core Group of Cummunity of Democracies.

Setelah makan siang pukul 13.00  saat yang paling membuat saya dag dig dug, yes show time….!. Saya bersama beberapa pemimpin organisasi mengisi sesi Education for Democracy : Core Element in Empowering Young People for Action. Menjadi pembicara didepan peserta Youth Forum yang berasal dari 25 negara membuat saya lumayan gugup, takut salah ngomong, namun ternyata yang saya takutkan tidak terjadi saya bisa berbicara dan menjawab pertanyaan dari peserta dengan lancar, saya membahas mengenai peran pemerintah dan Non Government Organization (NGO) dalam mempromosikan Education for Democracy, menurut saya pemerintah dan NGO harus saling mendukung program masing-masing yang bermanfaat bagi masyarakat luas, pendidikan sangat penting dalam demokrasi, demokrasi tanpa pendidikan sama saja menghancurkan demokrasi itu sendiri. Saya juga menyebutkan tentang politik uang yang sangat marak ketika pemilu menjelang, ini adalah salah satu bukti dari minimnya pendidikan mengenai demokrasi kepada masyarakat sehingga para calon pemimpin bangsa ini memanfaatkan “kebodohan” masyarakat melalui membeli suara mereka dengan uang. Tanya jawab juga berlangsung menarik ada yang menanyakan “seberapa penting sosial media di Indonesia?”, “Tantangan-tantangan yang dihadapi dalam menjalankan kegiatan Youth Interfaith Community” dan masih banyak lagi dan bersyukur sekali semuanya bisa saya jawab dengan lancar dan tenang. Thank God :)

Image

Acara selanjutnya adalah plenary session mengenai Engaging in Activism: Sources of Knowledge and Motivation Across Generations sesi ini diisi oleh orang-orang yang saat luar biasa dalam menyuarakan demokrasi dan hak asasi manusia seperti Ms Dorota Mitrus dari Europian Institute for Democracy, ISC, Polandia, Mr Art Kaufman, World Movement for Democracy, USA, dan Carlos Ponce, Latin America dan Caribbean Network for Democracy, ISC, Venezuela, sebenarnya di rundown acara adalagi satu pembicara dari Indonesia yaitu Ms Abdi Suryaningati dari Yappika saying dia tidak datang pada sesi tersebut. Satu yang bisa saya simpulkan dari mereka adalah ikutilah kata hatimu dan berjuanglah sesuai dengan bakat dan minatmu, tidak ada yang mudah namun keteguhan akan berbuah manis, kamu akan tersenyum bahagia melihat dirimu dan perjuanganmu berguna bagi orang banyak.

Coffee break lumayan membantu menghilangkan kantuk yang menyerang. Sesi selanjutnya adalah Parallel Group Discussion yang terdiri dari beberapa fokus seperti Youth Engagement  in Fighting Against Corruption, Building Organization for the Futur: Democracy Within Youth Civil Society dan Going Beyond Online Activism. saya mengambil tema Youth Engagement  in Fighting Against Corruption, saya mengambil tema ini karena inilah merupakan akar masalah yang sekarang dihadapi di negara kaya tapi miskin Indonesia, negaraku yang malang, dipimpin oleh orang-orang yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan kelompok, ya pemimpin tanpa moral sama dengan koruptor yang harus segera dibasmi. Disini saya mendengarkan curahan hati peserta dari berbagai negara mengenai korupsi dan politik “kotor” dinegara mereka. Setelah cerita dan diskusi yang lumayan panjang akhirnya kami membuat rekomendasi dan dibacakan setelah semua peserta dari group lain masuk dan juga membacakan hasil diskusi dan rekomendasi mereka.

Lumayan lelah seharian duduk dan diskusi, namun panitia mengumumkan bahwa akan ada persembahan kesenian dari anak-anak Children Palace, kami pun dengan semangat langsung menuju ruang pertunjukan, dan ternyata luar biasa kami dehibur dengan tarian dan nyanyian yang indah dari anak-anak Mongolia. Semua peserta larut dalam pertunjukan yang luar biasa yang berdurasi kurang lebih 30 menit, semua tersenyum puas setelah keluar dari ruang pertunjukan.

Image

Waktu menunjukkan pukul 6 sore dan kami melanjutkan perjalanan menuju Ulaanbaatar Hotel untuk menghadiri undangan makan malam oleh Mr. E.Bat-Uul, Governor and Mayor of Ulaanbaatar City. Pukul 7.30 malam saya harus memenuhi janji saya kepada Nara dan organisasinya yaitu Mongolian Youth Federation untuk makan malam bersama mereka, saya dan Ediola Pashorllari dari World Youth Assembly of Youth (WAY) langsung menuju restoran Khaan ger dan bertemu dengan dengan mereka. Luar biasa sekali mereka menyambut kami dengan hangat serta mengajak kami berbincang-bincang seputar kegiatan masing-masing, setelah makan malam kami diaja menuju lantai 2 restoran tersebut yang ternyata lagi ada pemilihan model dan fashion show melihat busana-busana yang diperagakan sangat indah sekali perpaduan tradisional dan modern. Setelah acara selesai kamipun diantar menuju hotel dan langsung beristitahat karena esok masih ada kegiatan yang tidak kalah padatnya……….

YOUTH FORUM COMMUNITY of DEMOCRACIES (CoD) Part 1

ImagePetengahan Maret 2013 saya mendapat email dari Nara, dia berasal dari Mongolia, kami berkenalan di Vienna Austria ketika menjadi peserta Youth Event UNAOC 2013. Dia mengatakan bahwa bulan April nanti aka nada acara Youth Forum CoD di Mongolia, dan dia menawarkan saya untuk bisa berpartisipasi, tentu saja saya sangat tertarik  apalagi temanya menarik yaitu Strengthening the Culture of Democracy. Namun kendala financial membuat saya menanyakan masalah transportasi dan akomodasi, dan dia mengatakan bahwa semuanya gratis kalau kamu dipilih oleh Kementerian Luar Negeri (KEMLU) Mongolia, Yup teman saya hanya merekomendasikan namun yang memutuskan saya bisa berangkat atau tidak adalah Kemlu Mongolia. Untuk itu saya mengirimkan Biodata Singkat dan juga pencelasan mengenai Youth Interfaith Community yang merupakan komunitas yang saya buat bersama beberapa teman.

Awal April 2013 kabar bahagia itu datang, Yup saya terpilih menjadi salah satu peserta Youth Forum CoD 2013. Rasa syukur kepada Tuhan dan terima kasih kepada orang tua dan orang-orang yang selalu mendukung selama ini aku haturkan. Tidak pernah menyangka akan berjodoh dengan negeri Ghinggis Khaan.

Satu minggu sebelum berangkat ada email yang lumayan bikin degdegan dari panitia Youth Forum. Email itu meminta kesediaan saya untuk menjadi salah satu pembicara di Youth Forum menganai Education For Democracy, tentu saja saya tidak langsung mengiyakan, saya meminta term of references nya terlebih dahulu sembari meminta pendapat dan saran dari orang-orang yang dekat dan tau kapasitas saya.

Setelah yakin, lebih tepatnya meyakin-yakinkan diri, saya menyanggupi untuk bisa mengisi salah satu tema alias bersedia menjadi salah satu pembicara.

Tanggal 25 April 2013  dengan menggunakan Korean Air saya bertolak menuju Mongolia, saat pengumuman dari pilot bahwa sebentar lagi akan mendara di Ulaanbaatar, saya membuka penutup kaca jendela dan melihat pemandanngan Mongolia dari atas, namun sepanjang mata memandang hanya gurun Gobi yang terkenal itu yang aku lihat, yang menarik adalah banyak sisa-sisa salju diatas gurun yang menandakan bahwa udara di Mongolia pasti dingin.

Akhirnya tiba di Mongolia dan bertemu beberapa delegasi dari negara lain di airport, kami disambut oleh panitia dan langsung diarahkan ke ruang tunggu VIP sembari menunggu visa on arrival, penyambutan mereka luar biasa bahkan kami tidak perlu antri bagasi, semua dilakukan oleh panitia. Setelah semua proses keimigrasian selesai, kami langsung diantar ke bus dan menuju ke hotel. Sepanjang perjalanan saya melihat kota Ulaanbaatar sangat kering, ini tentu saja karena sedang peralihan musim dingin dan memang tidak bisa banyak tumbuhan yang hidup karena kondisi tanah pasir gurun. Mongolia sangat gencar dalam membangun negaranya bisa dilihat sepanjang mata memangdang gedung-gedung tinggi sedandalam proses penyelesaian pembangunan dan itu diiyakan oleh salah satu panitia yang berada di dalam bus.

Akhirnya tiba di hotel, seluruh peserta Youth Forum menginap di Banyangol Hotel. Tiba di lobby saya langsung disambut oleh Nara, luar biasa Nara langsung memberikan paket bunga dan undangan makan malam, sayangnya malam itu saya harus meeting dan dinner bersama panitia untuk membahas teknis acara keesokan harinya, dan akhirnya makan malam bersama Nara dan organisasinya diundur keesokan harinya.

Image

Makan malam bersama panitia, pembicara dan fasilitator Youth Forum dimulai pukul 19.00 waktu Mongolia, setelah cek in saya bergegas masuk kamar dan berniat untuk mandi karena perjalanan panjang dari Jakarta membuat badan saya lengket apa lagi saya pikir langit masih terang jadi masih sempat lah, namun setelah saya melihat jam, waktu sudah menunjukkan pukul 18.50, saya pun kaget dan tidak membuang waktu langsung ke lobby karena diundangan disebutkan bahwah mobil jemputan aka nada pukul 18.30. Syukurlah mobilnya masih ada, terpaksa mandiun batal J. Di Mongolia matahari terbenam pukul 8 malam jadi buat saya WNI yang selalu rutin melihat matahari terenam  pukul 6 sore lumayan takjub melihat jam 7.30 malam matahari masih terang benderang.

Makan malampun dimulai, dinner yang diawali perkenalan dan membahas rundown acara serta teknis acara keesokan harinya, jujur diantara semua orang yang duduk dimeja tersebut, saya lah yang paling baru dalam memimpin sebuah organisasi, ya Youth Interfaith Community baru setahun lebih berjalan. Makan malam yang 90 persen adalah daging membuat saya mencoba hampir semua menu yang tersedia diatas meja dan memang betul daging di Mongolia sangat lezat karena ternak diberi makan rumput dan tidak menggunakan bahan kimia seperti yang sering kita dengar di Indonesia.

Image

Akhirnya makan malam selesai, mata sudah 5 watt menuju hotel, menyempatkan diri membaca sedikit materi yang akan disampaikan agar besok tidak membuat malu diri sendiri dan Indonesia……